
Alkisah, seorang
pertapa tua, sedang dalam perjalanan pulang nya ke tempat pertapaan nya di
lereng gunung malabar bandung selatan. Ia naik kendaraan yg dikemudian seorang
anak muda. Jalan dari kota Bandung menuju kota Pangalengan di lereng gunung
malabar, adalah jalan pegunungan bertepikan lembah dalam, penuh kelokan dan
tanjakan, cukup melelahkan berkendaraan melewatinya, tapi keindahan alam
sekitarnya dan udara yg segar membuat resah hati jadi sirna.
Namun tak begitu
bagi supir muda yg membawa kendaraan tersebut, jalan yang berliku dan menanjak,
membuat kendaraan tak bisa berjalan cepat, apalagi banyak kendaraan truk besar
pembawa sayuran dan susu sapi menuju pangalengan berjalan lambat. Sang supir
muda selalu mengeluh sepanjang jalan. Eghhh, payah nih truk jalan nya lambat
sekali, asap knalpotnya hitam kelam lagi, membawa bau knalpot. Mau disusul juga
susah karena jalan penuh kelokan tajam.
Sekali waktu
jalanan agak kosong dan lebar, sempat pula ia menyusul truk pembawa sayuran
tersebut. Ahhh lega juga sudah bisa menyusul truk lambat tersebut, katanya...,
sang pertapa tua hanya bisa tersenyum saja mendengar ucapan sang supir muda
tersebut. Tak lama kemudian , ternyata di depan ada lagi truk besar pembawa
peralatan projek geothermal wayang windu yg berjalan lambat, bukan hanya 1,
tapi ada 3 jalan beriringan, ahh payah nih, kata supir muda, jadi lambat lagi
nih jalan mobil kita katanya, susah menyusul 3 truk sekaligus, apalagi
knalpotnya mengeluarkan asap hitam pekat, sengsara pisan, katanya putus asa.
Begitulah
sepanjang perjalanan sang supir muda selalu mengeluh, pemandangan alam yg indah
di jalanan yg menyusuri lembah besar diantara gunung malabar dan gunung tilu,
tak bisa mengobati kegelisahan nya. Karena gelisah dan mengeluh, iapun sering
tak konsentrasi penuh saat mengemudi, sehingga sekali2 jalan kendaraan nya
cukup membahayakan karena nya.
Sang pertapa tua
pun berkata, wahai anak muda, baiknya kita berhenti sejenak di warung pinggir
jalan, biar kubelikan kau segelas kopi dan sepiring pisang goreng hangat,
supaya pikiran mu tenang dan selamat juga kita dalam berkendaraan ini.
Sang supir muda
pun, mengiyakan nya, ’’baik deh, pak tua, kita berhenti sejenak di warung,
daripada mengekor terus truk2 besar tersebut. Baik nanti kita berhenti di
warung kopi ceu dati langganan ku, setelah jalan belokan di depan.
Akhirnya mereka
pun beristirahat di warung kopi ceu dati, warung di pinggir jalan yg rimbun
dengan pepohonan dan di belakang nya ada kolam ikan.
Duduklah sang
pertapa tua dengan supir muda tersebut di sebuah meja di pinggir kolam.
Kemudian datanglah si neng , anak ceu dati , mojang priangan cantik khas desa,
yang sering digoda sang supir muda, eh si neng, kumaha damang neng ? ,tambih
geulis wae nya (eh si neng, gemana kabarnya, tambah cakeup aja yah ) kata sang
supir muda menggoda, si neng hanya tersenyum malu mendengar ucapan sang supir
muda.
Sang pertapa tua
hanya tersenyum saja melihat kelakuan sang supir, yah begitulah kelakukan anak
muda, mengingatkan juga pada masa muda nya dulu...
Neng minta kopi 2
gelas yah, terus juga keluarkan gorengan nya, pisang goreng dan singkong rebus, kata guru tua pada pelayan warung tsb, tolong
siapkan juga garam dan segelas air putih. Mangga aki kata si neng. ( note aki =
kakek )
Lho, kok minum
kopi dg garam, apa enak nya kata supir muda tsb ?
Bukan begitu anak muda, sambil menunggu kopi panas, saya
ingin menunjukkan sesuatu pada mu.
Sang pertapa tua
pun mengambil segenggam garam dan
memasukkan ke dalam segelas air putih tersebut, coba minum anak muda, bagaimana
rasanya ?
Sang supir muda
pun, bingung dengan perintah tersebut, tapi ia coba juga ingin tahu apa sih
maksud guru tua tsb.
Yah, asin sekali
lah rasanya, kata anak muda tsb, sambil meludahkan lagi air tersebut ke tanah
di luar warung..., si neng erna yg dari tadi melihatnya dari balik tirai,
tersenyum geli melihatnya.
Wahai anak muda,
sekarang marilah kita pergi ke kolam yang jernih airnya di belakang warung kopi
ini, maka pergi lah sang guru tua dan anak muda tadi ke kolam di belakang
warung tsb, sambil membawa segenggam garam. Ngapain lagi yah, mereka ayak ayak
wae, ( ada ada saja) kata si neng yg melihat kelakuan mereka dari kejauhan.
Orang tua
tersebut menaburkan kemudian segenggam garam yang dibawanya tadi ke dalam kolam
tersebut.
nah , anak muda,
coba sekarang kamu ambil dg telapak tangan mu segenggam air kolam tsb dan
rasakan, apakah rasanya ?
tidak terasa apa
apa, pak tua , kata anak muda, nggak ada rasa asin nya.
Sang pertapa tua
pun kemudian menjelaskan nya, wahai anak muda, garam di gelas tadi dan garam di
kolam ini, jumlah nya sama, segenggam tangan ku ini, tapi bisa berbeda rasanya,
tahu kenapa ? , karena air di kolam ini
jauh lebih banyak dari pada air di gelas tadi.
Air di kolam ini
tak terasa asin nya , karena airnya berada di kolam yg luas yang jauh lebih
banyak daripada air di dalam gelas tadi. Dalam air di gelas yg kecil, rasa
garam sangat terasa beda dengan garam di kolam tsb.
Hmm, begitu yah,
kata anak muda, yah kalau gitu mah saya juga ngerti pak tua, terus apa
maksudnya ini semua ? aneh aneh aja nih bapak tua kita ini , ujarnya.
Wahai anak muda,
apa yg terjadi itu, mengenai rasa garam yg berbeda, adalah gambaran dari apa yg
kita hadapi sehari hari.
Masalah sehari2
yg kita hadapi terasa berat, kalau kita hadapi dengan hati yg sempit, namun
masalah yang sama akan terasa ringan, kalau kita hadapi dengan hati yang lapang
pula. Air dalam gelas kecil adalah gambaran hati yg sempit, sedangkan air di
kolam yg luas adalah gambaran dari hati yg luas pula. Bila dada kita lapang,
hati kita jernih, pikiran kita luas, maka masalah apapun yg terjadi, bisa kita
hadapi dengan lapang pula, seperti tak terasanya garam di kolam yang luas
tersebut.
Seperti keluhan
mu tadi sepanjang jalan, karena jalanan mu terhambat oleh kendaraan2 besar,
bila kau terus mengeluh, hanya membuat dirimu tertekan tak menyelesaikan
masalah, malah bisa membahayakan kita semua, karena engkau akhirnya membawa
kendaraan dengan tidak aman, ujar sang guru tua, sang anak muda pun
mendengarkan nya sambil mengangguk angguk, benar juga nih kata orang tua ini.
Mengingat jalanmu
tadi yg sering terhambat kendaraan besar, sampai dimanapun kamu akan selalu
menemui kendaraan, bila telah bisa menyusul satu kendaraan, akan ada lagi
kendaraan lain di jalan selanjutnya yg menghambat laku kendaraanmu, begitulah
seterusnya, karena bila berada di jalan, pasti kita bertemu dengan kendaraan
lain, itu semua baru berhenti bila kendaraanmu sampai. Terimalah kenyataaan
tersebut, demikianlah namanya kehidupan selalu ada masalah.
Semuanya kembali
pada kita bagaimana melihat masalah tersebut, itulah perlu nya pikiran yg jernih dan hati yg lapang, seluas
kolam tadi dimana segenggam garam pun jadi tak terasa. Cobalah selalu
berpikiran positif, nikmati saja perjalanan ini, lihatlah betapa indahnya
pemandangan sepanjang jalan pegunungan ini, pohon2 yg rindang, dibawah tampak
kebun, sawah dan kolam terhampar indah, burung2 pun terbang riang diantara
pucuk2 pohon pinus, betapa indahnya.... ,
Sesungguh setelah kesulitan, akan datang kemudahan ( Al QurĂ¡n )
Hati yang lapang,
pikiran yang jernih dan selalu berpikir positif, akan menjadi teman terbaik
dalam menempuh perjalanan hidup berliku, yang hanya sekali kita lalui ini...
